Kisah di suatu malam
Sejuknya
udara kian lama kian menusuk tulangku, gelapnya malam dan sunyinya jalan tidak
membuatku bergeming sedikit pun. Aku tetap duduk di sebuah warung kopi, sambil
menikmati secangkir gelas kopi hangat
Kuhirup
kopi itu perlahan-lahan dan aku berharap semoga secangkir kopi hangat ini bisa
membuat suasanaku menjadi ceria, dan tenang. Setelah seharian aku lelah
menghadapi ujian akhir semester ganjil.
Ya,
seperti inilah kehidupanku di perantauan dan jauh dari orang tua. Di Kota
Pelajar, Yogyakarta. Di kota ini pula aku menuntut ilmu. Sudah tiga tahun aku
tidak pulang ke kota asalku Pontianak. Dan tahun ini merupakan tahun
terakhirku, sebab semester depan aku hanya tinggal menyusun tugas akhirku saja.
Kuambil
beberapa gorengan yang berada tepat di hadapanku, tak lama kemudian tanpa
kusadari tiba-tiba pundakku di tepuk oleh seseorang, lalu aku alihkan kepalaku
ke arah pundakku, ternyata ia seorang pria.
“Maaf
mas, boleh saya duduk disini” katanya sambil mengambil bangku disampingku.
Dengan cara menarik bangku itu keluar dari balik bawah meja
“Silahkan”
sahutku singkat.
Lalu
ia duduk di sampingku lalu mengambil sebuah gorengan, Ia memperkenalkan namanya
kepadaku, Sudaryo itulah namanya, sebuah nama singkat yang terdiri hanya satu
suku kata. Ia kuliah di UPN Veteran jurusan tekhnik Industri.
Tak
lama kemudian kami pun berbicara dan saling mengakrabkan diri satu sama lain,
jujur menurutku pria yang berkacamata, berambut lurus ini amat supel, dan mudah
tersenyum. Kami berbincang akan banyak hal, mulai dari dirinya yang berasal
dari Cirebon, Musik, Film dan lain sebagainya.
Hingga
akhirnya pembicaraan kami mengarah pada persoalan ya biasalah apalagi kalau
bukan soal percintaan.
Aku
bertanya kepadanya
“Kalau
soal pacar gimana, terus tipe cewek apa sih yang kau suka” kataku kepadanya
Ia
diam seribu bahasa, memberikan sebuah tanda yang bergambar cangkul dengan
sebuah titik dibawahnya. Ya hanya sebuah pertanyaan yang hinggap di benakku
kala itu.
Hingga
tiba-tiba ia mengeluarkan pertanyaan yang membuat jantungku berdegup kencang,
pernyataan itu seperti sebuah petir di hatiku.
“Aku
seorang Homo” katanya
“H...O....M....O,
Kenapa dia berbicara seperti itu” kataku dalam hati
“Ia,
Aku Homo, aku pernah memiliki pacar namanya Ika.. Namun ya biasalah ndro, aku
ini orang yang gak punya apa-apa, Bapak E Kui mandang orang dari segi materinya
aja” katanya dengan logat jawa yang medok
“Lalu”
kataku
“Dia
udah dijodohken, ama cowok pilihan Bapak e, Yo Wes, putus ” jawabnya singkat
Kuhirup
kopi panas, lalu ku perhatikan gaya Daryo yang sedang menghisap rokoknya
dalam-dalam seolah-olah ia berusaha menatap kisah hidupnya yang kelam.
“Aku
bingung Ndro, Wes Mumet kepalaku, Lah Mau gimana lagi ya, wong aku udah punya
cewek tapi musti putus padahal udah sama-sama cinta, Bener-bener Mumet, Lah
waktu aku bener-bener mumet ada anak kost baru dia pindahan dari Cilacap,
Namanya Vian Dia kuliah di UGM sama kayak aku, tapi dia gak suka ama cewek, dia
sukanya sama cowok” Daryo melanjutkan ceritanya
“Lalu”
kataku
“Aku
sama vian itu tinggal satu kamar, lah kost nya cowok toh yo, biasane satu kamar
tu ada satu orang, nah karena Vian ndak ada kamarnya jadi dia satu kamar
denganku itu udah maksimal banget, nah suatu malem, Vian ngajakin aku
berhubungan suami Istri awalnya aku ndak mau Ndro, Wuedddann E, Tapi dia malah
ngajakin aku terus, kebetulan waktu itu aku bener-bener mumet, bener-bener
butuh kasih sayang, akhirnya aku mau juga, Asu Asu”. Katanya sambil menghisap
rokok.
Entah
apa yang ia fikirkan saat itu,m aku tidak tahu persis, mengapa ia tetap
terpengaruh akan godaan setan, mengapa ia bodoh, ? Namun yang bisa aku tarik
kesimpulan adalah fikiran Daryo saat itu lagi kacau, makanya aku tidak heran ia
mau melakukan hubungan seperti itu.
“Apakah
ayahmu ndak tahu kalau kau Homo” Tanyaku
“Ndak” Kisah di suatu malam
Sejuknya
udara kian lama kian menusuk tulangku, gelapnya malam dan sunyinya jalan tidak
membuatku bergeming sedikit pun. Aku tetap duduk di sebuah warung kopi, sambil
menikmati secangkir gelas kopi hangat
Kuhirup
kopi itu perlahan-lahan dan aku berharap semoga secangkir kopi hangat ini bisa
membuat suasanaku menjadi ceria, dan tenang. Setelah seharian aku lelah
menghadapi ujian akhir semester ganjil.
Ya,
seperti inilah kehidupanku di perantauan dan jauh dari orang tua. Di Kota
Pelajar, Yogyakarta. Di kota ini pula aku menuntut ilmu. Sudah tiga tahun aku
tidak pulang ke kota asalku Pontianak. Dan tahun ini merupakan tahun
terakhirku, sebab semester depan aku hanya tinggal menyusun tugas akhirku saja.
Kuambil
beberapa gorengan yang berada tepat di hadapanku, tak lama kemudian tanpa
kusadari tiba-tiba pundakku di tepuk oleh seseorang, lalu aku alihkan kepalaku
ke arah pundakku, ternyata ia seorang pria.
“Maaf
mas, boleh saya duduk disini” katanya sambil mengambil bangku disampingku.
Dengan cara menarik bangku itu keluar dari balik bawah meja
“Silahkan”
sahutku singkat.
Lalu
ia duduk di sampingku lalu mengambil sebuah gorengan, Ia memperkenalkan namanya
kepadaku, Sudaryo itulah namanya, sebuah nama singkat yang terdiri hanya satu
suku kata. Ia kuliah di UPN Veteran jurusan tekhnik Industri.
Tak
lama kemudian kami pun berbicara dan saling mengakrabkan diri satu sama lain,
jujur menurutku pria yang berkacamata, berambut lurus ini amat supel, dan mudah
tersenyum. Kami berbincang akan banyak hal, mulai dari dirinya yang berasal
dari Cirebon, Musik, Film dan lain sebagainya.
Hingga
akhirnya pembicaraan kami mengarah pada persoalan ya biasalah apalagi kalau
bukan soal percintaan.
Aku
bertanya kepadanya
“Kalau
soal pacar gimana, terus tipe cewek apa sih yang kau suka” kataku kepadanya
Ia
diam seribu bahasa, memberikan sebuah tanda yang bergambar cangkul dengan
sebuah titik dibawahnya. Ya hanya sebuah pertanyaan yang hinggap di benakku
kala itu.
Hingga
tiba-tiba ia mengeluarkan pertanyaan yang membuat jantungku berdegup kencang,
pernyataan itu seperti sebuah petir di hatiku.
“Aku
seorang Homo” katanya
“H...O....M....O,
Kenapa dia berbicara seperti itu” kataku dalam hati
“Ia,
Aku Homo, aku pernah memiliki pacar namanya Ika.. Namun ya biasalah ndro, aku
ini orang yang gak punya apa-apa, Bapak E Kui mandang orang dari segi materinya
aja” katanya dengan logat jawa yang medok
“Lalu”
kataku
“Dia
udah dijodohken, ama cowok pilihan Bapak e, Yo Wes, putus ” jawabnya singkat
Kuhirup
kopi panas, lalu ku perhatikan gaya Daryo yang sedang menghisap rokoknya
dalam-dalam seolah-olah ia berusaha menatap kisah hidupnya yang kelam.
“Aku
bingung Ndro, Wes Mumet kepalaku, Lah Mau gimana lagi ya, wong aku udah punya
cewek tapi musti putus padahal udah sama-sama cinta, Bener-bener Mumet, Lah
waktu aku bener-bener mumet ada anak kost baru dia pindahan dari Cilacap,
Namanya Vian Dia kuliah di UGM sama kayak aku, tapi dia gak suka ama cewek, dia
sukanya sama cowok” Daryo melanjutkan ceritanya
“Lalu”
kataku
“Aku
sama vian itu tinggal satu kamar, lah kost nya cowok toh yo, biasane satu kamar
tu ada satu orang, nah karena Vian ndak ada kamarnya jadi dia satu kamar
denganku itu udah maksimal banget, nah suatu malem, Vian ngajakin aku
berhubungan suami Istri awalnya aku ndak mau Ndro, Wuedddann E, Tapi dia malah
ngajakin aku terus, kebetulan waktu itu aku bener-bener mumet, bener-bener
butuh kasih sayang, akhirnya aku mau juga, Asu Asu”. Katanya sambil menghisap
rokok.
Entah
apa yang ia fikirkan saat itu,m aku tidak tahu persis, mengapa ia tetap
terpengaruh akan godaan setan, mengapa ia bodoh, ? Namun yang bisa aku tarik
kesimpulan adalah fikiran Daryo saat itu lagi kacau, makanya aku tidak heran ia
mau melakukan hubungan seperti itu.
“Apakah
ayahmu ndak tahu kalau kau Homo” Tanyaku
“Ndak”
“Sudah
berapa lama kau hidup seperti ini?” Tanyaku
“Dua
Tahun, Cari cewek yang betul-betul setia susah e”
“Apakah
kau tidak takut akan Azab Tuhan” Tanyaku
“Ndak,
Karena aku ki Ngerasane, aku itu cewek yang terperangkap di tubuh Pria”
Astaga,
tanpa kusadari ternyata ia merapa pahaku, ini sudah sangat berbahaya lagi,
akhirnya aku mengakhiri pembicaraan kami. Dan Aku membayar secangkir kopi yang
sdah aku nikmati sebelumnya
“Benar-benar
edan” Kataku Dalam Hati
“Sudah
berapa lama kau hidup seperti ini?” Tanyaku
“Dua
Tahun, Cari cewek yang betul-betul setia susah e”
“Apakah
kau tidak takut akan Azab Tuhan” Tanyaku
“Ndak,
Karena aku ki Ngerasane, aku itu cewek yang terperangkap di tubuh Pria”
Astaga,
tanpa kusadari ternyata ia merapa pahaku, ini sudah sangat berbahaya lagi,
akhirnya aku mengakhiri pembicaraan kami. Dan Aku membayar secangkir kopi yang
sdah aku nikmati sebelumnya
“Benar-benar
edan” Kataku Dalam Hati

Tidak ada komentar