Header Ads

Image and video hosting by TinyPic

Kisah di suatu malam

Sejuknya udara kian lama kian menusuk tulangku, gelapnya malam dan sunyinya jalan tidak membuatku bergeming sedikit pun. Aku tetap duduk di sebuah warung kopi, sambil menikmati secangkir gelas kopi hangat
Kuhirup kopi itu perlahan-lahan dan aku berharap semoga secangkir kopi hangat ini bisa membuat suasanaku menjadi ceria, dan tenang. Setelah seharian aku lelah menghadapi ujian akhir semester ganjil.
Ya, seperti inilah kehidupanku di perantauan dan jauh dari orang tua. Di Kota Pelajar, Yogyakarta. Di kota ini pula aku menuntut ilmu. Sudah tiga tahun aku tidak pulang ke kota asalku Pontianak. Dan tahun ini merupakan tahun terakhirku, sebab semester depan aku hanya tinggal menyusun tugas akhirku saja.
Kuambil beberapa gorengan yang berada tepat di hadapanku, tak lama kemudian tanpa kusadari tiba-tiba pundakku di tepuk oleh seseorang, lalu aku alihkan kepalaku ke arah pundakku, ternyata ia seorang pria.
“Maaf mas, boleh saya duduk disini” katanya sambil mengambil bangku disampingku. Dengan cara menarik bangku itu keluar dari balik bawah meja
“Silahkan” sahutku singkat.
Lalu ia duduk di sampingku lalu mengambil sebuah gorengan, Ia memperkenalkan namanya kepadaku, Sudaryo itulah namanya, sebuah nama singkat yang terdiri hanya satu suku kata. Ia kuliah di UPN Veteran jurusan tekhnik Industri.
Tak lama kemudian kami pun berbicara dan saling mengakrabkan diri satu sama lain, jujur menurutku pria yang berkacamata, berambut lurus ini amat supel, dan mudah tersenyum. Kami berbincang akan banyak hal, mulai dari dirinya yang berasal dari Cirebon, Musik, Film dan lain sebagainya.
Hingga akhirnya pembicaraan kami mengarah pada persoalan ya biasalah apalagi kalau bukan soal percintaan.
Aku bertanya kepadanya
“Kalau soal pacar gimana, terus tipe cewek apa sih yang kau suka” kataku kepadanya
Ia diam seribu bahasa, memberikan sebuah tanda yang bergambar cangkul dengan sebuah titik dibawahnya. Ya hanya sebuah pertanyaan yang hinggap di benakku kala itu.
Hingga tiba-tiba ia mengeluarkan pertanyaan yang membuat jantungku berdegup kencang, pernyataan itu seperti sebuah petir di hatiku.
“Aku seorang Homo” katanya
“H...O....M....O, Kenapa dia berbicara seperti itu” kataku dalam hati
“Ia, Aku Homo, aku pernah memiliki pacar namanya Ika.. Namun ya biasalah ndro, aku ini orang yang gak punya apa-apa, Bapak E Kui mandang orang dari segi materinya aja” katanya dengan logat jawa yang medok
“Lalu” kataku
“Dia udah dijodohken, ama cowok pilihan Bapak e, Yo Wes, putus ” jawabnya singkat
Kuhirup kopi panas, lalu ku perhatikan gaya Daryo yang sedang menghisap rokoknya dalam-dalam seolah-olah ia berusaha menatap kisah hidupnya yang kelam.
“Aku bingung Ndro, Wes Mumet kepalaku, Lah Mau gimana lagi ya, wong aku udah punya cewek tapi musti putus padahal udah sama-sama cinta, Bener-bener Mumet, Lah waktu aku bener-bener mumet ada anak kost baru dia pindahan dari Cilacap, Namanya Vian Dia kuliah di UGM sama kayak aku, tapi dia gak suka ama cewek, dia sukanya sama cowok” Daryo melanjutkan ceritanya
“Lalu” kataku
“Aku sama vian itu tinggal satu kamar, lah kost nya cowok toh yo, biasane satu kamar tu ada satu orang, nah karena Vian ndak ada kamarnya jadi dia satu kamar denganku itu udah maksimal banget, nah suatu malem, Vian ngajakin aku berhubungan suami Istri awalnya aku ndak mau Ndro, Wuedddann E, Tapi dia malah ngajakin aku terus, kebetulan waktu itu aku bener-bener mumet, bener-bener butuh kasih sayang, akhirnya aku mau juga, Asu Asu”. Katanya sambil menghisap rokok.
Entah apa yang ia fikirkan saat itu,m aku tidak tahu persis, mengapa ia tetap terpengaruh akan godaan setan, mengapa ia bodoh, ? Namun yang bisa aku tarik kesimpulan adalah fikiran Daryo saat itu lagi kacau, makanya aku tidak heran ia mau melakukan hubungan seperti itu.
“Apakah ayahmu ndak tahu kalau kau Homo” Tanyaku
“Ndak”Kisah di suatu malam
Sejuknya udara kian lama kian menusuk tulangku, gelapnya malam dan sunyinya jalan tidak membuatku bergeming sedikit pun. Aku tetap duduk di sebuah warung kopi, sambil menikmati secangkir gelas kopi hangat
Kuhirup kopi itu perlahan-lahan dan aku berharap semoga secangkir kopi hangat ini bisa membuat suasanaku menjadi ceria, dan tenang. Setelah seharian aku lelah menghadapi ujian akhir semester ganjil.
Ya, seperti inilah kehidupanku di perantauan dan jauh dari orang tua. Di Kota Pelajar, Yogyakarta. Di kota ini pula aku menuntut ilmu. Sudah tiga tahun aku tidak pulang ke kota asalku Pontianak. Dan tahun ini merupakan tahun terakhirku, sebab semester depan aku hanya tinggal menyusun tugas akhirku saja.
Kuambil beberapa gorengan yang berada tepat di hadapanku, tak lama kemudian tanpa kusadari tiba-tiba pundakku di tepuk oleh seseorang, lalu aku alihkan kepalaku ke arah pundakku, ternyata ia seorang pria.
“Maaf mas, boleh saya duduk disini” katanya sambil mengambil bangku disampingku. Dengan cara menarik bangku itu keluar dari balik bawah meja
“Silahkan” sahutku singkat.
Lalu ia duduk di sampingku lalu mengambil sebuah gorengan, Ia memperkenalkan namanya kepadaku, Sudaryo itulah namanya, sebuah nama singkat yang terdiri hanya satu suku kata. Ia kuliah di UPN Veteran jurusan tekhnik Industri.
Tak lama kemudian kami pun berbicara dan saling mengakrabkan diri satu sama lain, jujur menurutku pria yang berkacamata, berambut lurus ini amat supel, dan mudah tersenyum. Kami berbincang akan banyak hal, mulai dari dirinya yang berasal dari Cirebon, Musik, Film dan lain sebagainya.
Hingga akhirnya pembicaraan kami mengarah pada persoalan ya biasalah apalagi kalau bukan soal percintaan.
Aku bertanya kepadanya
“Kalau soal pacar gimana, terus tipe cewek apa sih yang kau suka” kataku kepadanya
Ia diam seribu bahasa, memberikan sebuah tanda yang bergambar cangkul dengan sebuah titik dibawahnya. Ya hanya sebuah pertanyaan yang hinggap di benakku kala itu.
Hingga tiba-tiba ia mengeluarkan pertanyaan yang membuat jantungku berdegup kencang, pernyataan itu seperti sebuah petir di hatiku.
“Aku seorang Homo” katanya
“H...O....M....O, Kenapa dia berbicara seperti itu” kataku dalam hati
“Ia, Aku Homo, aku pernah memiliki pacar namanya Ika.. Namun ya biasalah ndro, aku ini orang yang gak punya apa-apa, Bapak E Kui mandang orang dari segi materinya aja” katanya dengan logat jawa yang medok
“Lalu” kataku
“Dia udah dijodohken, ama cowok pilihan Bapak e, Yo Wes, putus ” jawabnya singkat
Kuhirup kopi panas, lalu ku perhatikan gaya Daryo yang sedang menghisap rokoknya dalam-dalam seolah-olah ia berusaha menatap kisah hidupnya yang kelam.
“Aku bingung Ndro, Wes Mumet kepalaku, Lah Mau gimana lagi ya, wong aku udah punya cewek tapi musti putus padahal udah sama-sama cinta, Bener-bener Mumet, Lah waktu aku bener-bener mumet ada anak kost baru dia pindahan dari Cilacap, Namanya Vian Dia kuliah di UGM sama kayak aku, tapi dia gak suka ama cewek, dia sukanya sama cowok” Daryo melanjutkan ceritanya
“Lalu” kataku
“Aku sama vian itu tinggal satu kamar, lah kost nya cowok toh yo, biasane satu kamar tu ada satu orang, nah karena Vian ndak ada kamarnya jadi dia satu kamar denganku itu udah maksimal banget, nah suatu malem, Vian ngajakin aku berhubungan suami Istri awalnya aku ndak mau Ndro, Wuedddann E, Tapi dia malah ngajakin aku terus, kebetulan waktu itu aku bener-bener mumet, bener-bener butuh kasih sayang, akhirnya aku mau juga, Asu Asu”. Katanya sambil menghisap rokok.
Entah apa yang ia fikirkan saat itu,m aku tidak tahu persis, mengapa ia tetap terpengaruh akan godaan setan, mengapa ia bodoh, ? Namun yang bisa aku tarik kesimpulan adalah fikiran Daryo saat itu lagi kacau, makanya aku tidak heran ia mau melakukan hubungan seperti itu.
“Apakah ayahmu ndak tahu kalau kau Homo” Tanyaku
“Ndak”
“Sudah berapa lama kau hidup seperti ini?” Tanyaku
“Dua Tahun, Cari cewek yang betul-betul setia susah e”
“Apakah kau tidak takut akan Azab Tuhan” Tanyaku
“Ndak, Karena aku ki Ngerasane, aku itu cewek yang terperangkap di tubuh Pria”
Astaga, tanpa kusadari ternyata ia merapa pahaku, ini sudah sangat berbahaya lagi, akhirnya aku mengakhiri pembicaraan kami. Dan Aku membayar secangkir kopi yang sdah aku nikmati sebelumnya
“Benar-benar edan” Kataku Dalam Hati

“Sudah berapa lama kau hidup seperti ini?” Tanyaku
“Dua Tahun, Cari cewek yang betul-betul setia susah e”
“Apakah kau tidak takut akan Azab Tuhan” Tanyaku
“Ndak, Karena aku ki Ngerasane, aku itu cewek yang terperangkap di tubuh Pria”
Astaga, tanpa kusadari ternyata ia merapa pahaku, ini sudah sangat berbahaya lagi, akhirnya aku mengakhiri pembicaraan kami. Dan Aku membayar secangkir kopi yang sdah aku nikmati sebelumnya
“Benar-benar edan” Kataku Dalam Hati


Tidak ada komentar

Gambar tema oleh fpm. Diberdayakan oleh Blogger.