Cinta atau Persahabatan
" Maafkan aku teman
Aku
takkan bisa menjadi kekasih
Bagi
pacarmu
Meskipun
itu Permintaan terakhirmu
Untukku...."
Kalimat
itulah yang menjadi isi hatiku saat ini. Ya, semenjak Tommy seorang sahabatku
meninggal dunia, akibat Leukimia yang telah lama ia alami.
Aku
telah mengenalnya semenjak tiga tahun yang lalu. Kala itu aku duduk semester
akhir di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Kota Gudeg Jogjakarta.
Namaku
Jhonny, saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan house (PH) yang berada di
Jakarta. Sebelumnya aku kuliah di Fakultas Ilmu Komputer dan aku mengambil
jurusan Manajemen Informatika. Namun rasa cintaku terhadap seni membuatku untuk
memilih mendalami multimedia. Satu hal yang membuatku tertarik dengan
Multimedia adalah animasi, CGI (Computer Graphic Interface), Editing Video dan
lain sebagainya.
Ketika
kuliah aku ngekost di Jalan Gejayan. Dengan pertimbangan hal ini lebih dekat
dengan kampusku.
Perkenalanku
dengan Tommy dimulai dalam suatu Malam. Kala itu cacing perutku sudah
meronta-ronta, sementara jarum jam telah menunjukkan pukul 01.00 Dini hari,
sialnya uangku hanya tinggal tiga ratus ribu rupiah, aku belum mendapat kiriman
dari orang tuaku. Dan lebih naasnya lagi uang tiga ratus ribu rupiah itu
sebenarnya digunakan untuk membayar Uang Semester ku.
Otakku
berfikir bagaimana caranya agar aku bisa mengisi perutku dan membuat mereka
tertawa bahagia.
"Ah,
Sial" Kataku dalam hati
Dengan
tekadku yang kuat, dan tanpa pertimbangan lagi akhirnya aku hidupkan sepeda
motorku, untuk mencari warung Burjo (Bubur Kacang Ijo) di dekat kostku.
"
Mungkin semangkuk Intel (Indomie Telor) goreng mampu membuat perutku merasa
tentram" begitulah pikirku
Tak
jauh dari kostku aku menemukan warung Burjo yang masih buka, warung ini
biasanya adalah langgananku untuk santai, makan, dan biasanya aku juga hutang
di warung ini. Mungkin kalian sudah tahu alasanku hutang.
Malam
itu Aku memesan semangkuk Mie Instant dan Es Teh
"Kang,
hutang ya, belom dapat gajian nich dari ortu" kataku dengan teriak
"Bayarnya
kapan atuh, hutang melulu" kata penjaga Warung
"Besok
deh, aku janji" kataku
Aku
duduk di sebuah meja dimana tepat berhadapan dengan seseorang pria yang mungkin
sebaya denganku, pria dengan berkacamata itu hanya tersenyum dengan lesung
pipitnya.
"Lagi
Bokek, ya" katanya
"Ya
nich mas" kataku
"Ya
udah ntar tak bayarin" katanya dengan logat jawa yang medok
"Hatur
Nuwun mas" Kataku sambil tersenyum
"Tinggal
dimana mas" katanya lagi
"Di
Gejayan"
"Oh
ya, Kenalkan nama saya Tommy, disini kuliah ya" Katanya
"Ya,
namaku Jhonny aku asal Kalimantan" kataku
Tak
lama kemudian akhirnya terjadilah pembicaraanku dengan Tommy, dia adalah
seseorang sutradara film indie dan berasal dari keturunan ningrat. Aku pun
mengenali diriku sebagai seorang mahasiswa yang mendalami ilmu editing
(multimedia) Lalu kami saling tukar nomor handphone.
"Ah,
alhamdulillah Jika aku tidak bertemu dengannya aku tidak tahu bagaimana caranya
agar aku bisa membayar uang SPP Kuliahku besok" Kataku dalam hati
Keesokan
harinya aku mendapat SMS dari Tommy,
"Hallo
Dab, Piye kabare, Oh, ya aku ono film indie, Filmnya belum tak edit, soal e aku
sibuk, Jadi aku harap kamu bisa mengedit filmku ini. Nanti kamu kerumahku aja
ntar kamu tak jemput. Kost mu dimana"
Aku
membalas SMS tersebut
"Aku
masih di Kampus nih, Masih ada kuliah ntar kalo aku pulang aku sms kamu, Oke
Dab"
Lalu
dia membalas SMS dariku
"Oke"
Ketika
aku pulang kekost, aku tak lupa untuk sms Tommy
"Bro,
aku udah nyampe di kost"
Sekitar
tiga jam aku tunggu di kost akhirnya Tommy menjemputku, dan membawaku
kerumahnya.
Tommy
bagiku adalah sosok orang yang ramah, supel, dia bisa bergaul dengan siapa
saja, tak peduli kaya atau pun miskin.
Ini
adalah film indieku yang pertama kalinya aku garap. Jadi aku pun tidak bisa
sembarangan dalam mengedit scene-scene yang telah ada di PC Tommy, aku harus
berhati-hati. Oleh sebab itulah aku banyak bertanya kepada Tommy.
Tommy
orangnya murah tersenyum.
Tak
terasa setahun lamanya aku menjadi sahabat Tommy. Dia sering melibatkanku
didalam produksi - produksi filmnya, entah aku sebagai kameraman, lighting,
editing, computer graphic dan lain sebagainya.
Tommy
adalah seorang teman yang memiliki segudang ilmu pengetahuan perfilman tak
jarang pula aku sering ditraktir olehnya untuk menonton film di Bioskop maupun
DVD. Bagiku dia sudah lebih dari seorang sahabat. Mungkin dia adalah kakak
bagiku. Orang tua Tommy amat ramah kepadaku, meskipun mereka sering ke Jakarta.
Jujur
ku akui, aku sering ikut berbagai festival film Indie bersama Tommy. Terkadang
kami menang dan terkadang pula kalah. Terkadang juara satu dan terkadang pula
tersisih di penyisihan. Tapi bagi kami persahabatan mengalahkan segala-galanya
Hanya
satu kekuranganku dengan Tommy, Tommy memiliki seorang pacar yang bernama Lisa.
Orangnya cantik, sedangkan aku satu pun aku tak memiliki kekasih. Ingin sekali
harapanku memiliki kekasih namun tak terwujud. Tapi itu tak masalah bagiku.
Yang
terpenting bagiku adalah persahabatan, dari persahabatan ini secara tanpa
kusadari aku bisa memiliki penghasilan yang tak kukira datangnya. Ya dari hasil
jual filmlah. Karena bagi kami film dapat menjadi hal komoditas yang berharga.
Hingga
suatu malam ketika aku menginap dirumahnya secara tiba-tiba Tommy bertanya
kepadaku
"Dab,
kamu kok gak punya pacar sih, seandainya aku udah gak ada kamu mau gak jadi
Pacar e Lisa"
Pertanyaan
itu amat menyentakku
"Maksud
Loe, apa nich Tom"
"Kamu,
tahu gak kalo umur kita itu gak ada yang tahu, Aku juga ndak tahu umurku sampe
berapa, Dab, koe wes tak anggap kayak sodara sendiri, koe udah tak anggap kayak
adikku sendiri."
"Gua
gak ngerti maksud loe"
"Yo
wes, jujur wae, aku ngerasakan kalo aku semakin hari semakin lemah, aku udah
ndak kayak yang dulu lagi, aku bukan Tommy yang kamu kenal, Aku
Uhuk..Uhuk...Uhuk..."
"Loe
kenapa Tom"
Aku
terkejut ternyata dari Mulut Tommy mengeluarkan darah
"Tom,
Loe sakit"
Tommy
hanya terdiam
"Loe
Jawab Pertanyaan Gue"
Tommy
hanya mengangguk
"Sebenarnya
udah lama aku sakit seperti ini. Waktu aku kecil aku pernah terkena Leukimia,
Aku udah gak kuat lagi, kalo aku gak ada kamu mau jadi pacarnya lisa"
"Gue
bakal antar loe ke rumah sakit, loe harus kuat Tom"
Sentak
aku menghentikan pekerjaanku dirumahnya Dengan sepeda motorku aku mengantar
Tommy Ke Rumah Sakit Bethesda. Kutelepon orang tua Tommy, dan mengatakan bahwa
kondisinya sudah gawat.
Keesokan
harinya, kedua orang tua Tommy telah tiba di bandara lalu dijemput olehku dan
juga Lisa. Kami langsung menuju Rumah Sakit Bethesda, dan di ruang dimana Tommy
dirawat.
Tangis
keluarga pun menjadi-jadi. Kugenggam tangan Tommy erat-erat. Seorang dokter
mengatakan bahwa kondisi Tommy Sudah Koma. Dan kritis.
Tommy
membisikku untuk terakhir kalinya
"
Jhon, tolong Jaga Lisa baik-baik ini adalah permintaan terakhirku, aku minta
jadilah kamu seorang moviemaker yang handal" katanya secara terbata-bata
"Ya,
Gue berjanji"
Tak
lama kemudian dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Oh
Tuhan aku kehilangan seorang sahabat yang penting dalam hidupku. Mengapa cepat
engkau memanggil sahabatku. Entah dimana kudapatkan sahabat seperti dia.
Di
hari pemakamannya tak kuasa aku menahan tangis isak air mataku, Teman jujur aku
katakan bahwa aku tak mencintai Lisa, aku terlanjur menganggapnya sebagai
sahabatku. Aku merasa berdosa pada Tommy yang tak bisa memenuhi janjinya guna
menjadi pengganti dirinya didalam kehidupan Lisa.
Keesokan
harinya aku ajak Lisa di sebuah kafe. Lalu Aku akan mencoba berkata jujur kepada
Lisa.
"Lis,
aku minta maaf kepadamu, kalau aku gak bisa menjadi pengganti Tommy di
kehidupanmu."
"Kamu
masih punya hati gak sih, kamu sempat bicara seperti itu. Aku gak ngerti deh
maksudmu apa" Kata Lisa
"Jujur
Tommy memintaku untuk jadi penggantinya. Pengganti pacarmu tapi maaf aku sudah
punya pacar lain yang bernama..."
"Stop,
Kamu ternyata gak berterima kasih kepada Tommy, Kamu selama ini kuanggap
sebagai saudara ternyata berkhianat di belakang Tommy Dan..." Kata Lisa
"Aku
belum selesai bicara, apa kamu sudah memiliki hati kepadaku, apa artinya
pacaran jika tanpa dilandasi cinta" Kataku
"Seandainya
Tommy masih hidup mungkin dia menyesal punya saudara angkat sepertimu"
Katanya lagi
"Lisa,
Please Kamu ingin jadi pacarku karena kamu sebenarnya masih cinta Tommy. Jujur
aku rasa Tommy mengerti kalau tanpa cinta suatu hubungan takkan pernah
berhasil, dan mungkin dia maklumi di alam baka sana"
Lisa
hanya diam terpaku
"Begini
aja deh, kalau kamu mau, yah jujur aku juga gak tega membayangkannya. Aku mohon
carilah pengganti diriku, yang lebih baik dariku, kurasa kamu akan
menemukannya."
Lisa
mengangguk setuju, aku tahu dia terluka karena ucapanku, kulihat air matanya
jatuh berlinang. Kuusap airmatanya
"Kita
masih bisa bersahabat" ucapku
Teman,
saat ini kenangan itu masih membekas di benakku, paling tidak hingga kutuliskan
sebuah puisi diatas sebagai ungkapan hatiku mengenang sahabatku.
"
Maafkan aku teman
Aku
takkan bisa menjadi kekasih
Bagi
pacarmu
Meskipun
itu Permintaan terakhirmu
Untukku...."
Jakarta
20 - Juni - 2007

Tidak ada komentar